SEJARAH SINGKAT DESA RESTU RAHAYU

http://resturahayu-lampungtimur.desa.id/file/logo/lamtim.png

Sejarah Singkat Desa Restu Rahayu (RR).

 

       Sejarah/riwayat Desa Restu Rahayu (RR), pada awalnya Desa Restu Rahayu merupakan tanah Hutan dan Rawa yang masuk wilayah Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung Tengah, RR merupakan daerah Transmigrasi terakhir penduduk Transmigrasi yang datang dari Bali pada bulan Mei tahun 1958 yang diikuti oleh tiga rombongan dimana rombongan 1 diketuai oleh Ida Bagus Anom yang mayoritas berasal dari daerah Mengwi, Desa Gulingan (Bali), rombongan 2 diketuai oleh Pan Darti yang mayoritas anggotanya adalah dari Tabanan daerah Antasari (Bali), dan rombongan yang ke 3 diketuai oleh Pan Reji yang mayoritas anggotanya dari Tabanan daerah Bongan (Bali).

       Sebelum tiba di RR ke tiga rombongan membuat pondok (base camp) sementara di daerah Rama Dewa dan sebagian di daerah Rama Utama mengingat daerah RR kondisinya masih hutah belantara dengan banyak binatang buas berkeliaran sembari menunggu pembukaan hutan dan pengukuran jatah tanah permukiman yang akan dijadikan rumah Transmigrasi tetap pada akhir bulan Mei tahun 1958, dari base camp para penduduk Transmigrasi membantu petugas pemerintah untuk bergotong royong membuka hutan serta mempercepat pembangunan rumah Transmigrasi yang pada waktu itu atapnya terbuat dari papan dan didingnya terbuat dari kulit kayu karena kondisi kayu pada waktu itu dominan berbatang yang sangat besar.

       Setelah rumah Transmigrasi selesai dibuat dan masing-masing penduduk mendapatkan haknya dan mulai menempati tempat tinggal yang disediakan oleh pemerintah barulah setelah itu Menteri Transigrasi pertama Republik  Indonesia DR. Ferdinand Lumantobing berkunjung ke daerah RR sekaligus meresmikan Desa RR pada bulan Mei 1959 dengan membuat Prasasti Tugu yang sampai saat ini masyarakat RR menamainya “Taman Tobing” dan diikuti pembukaan jalan Desa menggunakan alat berat bantuan dari menteri Transmigrasi.

       Nama atau istilah RR sebenarnya merupakan kode daerah urutan Transmigrasi yang dibuat oleh pemerintan departemen Transmigrasi Republik Indonesia dimulai dari (RA=Raman Aji, RB=Rejo Binangun, RD=Ratna Daya, RE= Rukti Endah, RF= Raman Fajar, RG=Rama Gunawan, RH, RI lalu RR= Restu Rahayu sebagai daerah Transmigrasi yang terakhir.

       Kendala yang dihadapi penduduk Restu Rahayu pada saat awal tansmigrasi yaitu Hambatan saat berada dalam perjalanan menuju  Lampung, sebelum sampai di Lampung para penduduk Transmigrasi sampai di Jakarta terlebih dahulu namun disana masyarakat transmigran asal Bali kurang terurus oleh pemerintah dinas Transmigrasi Republik Indonesia karena kurang nya koordinasi yang mencapai waktu 6 (Enam) hari. Sehingga banyak anggota keluarga yang kehabisan bekal dalam perjalan sehingga menjual barang bawaan seperti ayam, dan bekal-bekal lain seperti baju, sepeda gayuh dan lain-lain yang di bawa dari pulau Bali.

       Setelah beberapa waktu barulah mereka dikirim menggunakan kapal menuju daerah Lampung singkat cerita, sesampainya di daerah transmigarasi tujuan, lebih banyak lagi cobaan yang harus dihadapi oleh masyarakat  seperti wabah penyakit Malaria, panas dingin, Muntaber  yang susah diobati dikarenakan kekurangan obat-obatan dan belum adanya tenaga kesehatan sehingga hampir setiap satu hari tiga orang yang meninggal dunia karena terserang wabah penyakit tersebut. Terutama di daerah dusun 3 (Sudi Mare), pun juga serangan Harimau Sumatra di daerah bendungan Sudi Mare yang mengakibatkan tewasnya seorang warga Bali sepulang dari bekerja sampai hanya tersisa sepotong kaki kanan nya saja. Hal ini membuat kebanyakan penduduk terauma sehingga hampir 40% penduduk kembali  ke pulau Bali.

Selain itu kurang nya alat-alat pertanian yang menyebabkan susahnya pekerjaan yang dilakukan oleh para penduduk untuk membuka lahan pertanian karena kondisi lahan pada waktu itu masih hutan belantara, namun hal ini oleh penduduk yang masih bertahan di Desa Restu Rahayu dapat diatasi dengan berbaur dengan masyarakat Transmigrasi luar Bali (Jawa) dan penduduk lokal (Lampung) yang pada waktu itu hubungannya sangat harmonis walaupun penduduk Transmigrasi asal bali tidak menguasai bahasa Indonesia atau bahasa daerah lokal (menggunakan bahasa isyarat) penduduk asli Lampung. Jadi penduduk Restu Rahayu beralkulturasi dengan masyarakat luar untuk mendapatkan kebutuhan pokok, alat-alat pertanian, dan untuk memperoleh bibit-bibit tanaman yang akan digunakan untuk sarana bercocok tanam. Demikianlah kiranya perjalanan para tokoh-tokoh Transmigrasi asal bali untuk memperjuangkan diri mendapatkan tempat yang layak di daerah Transmigrasi Lampung, susahnya perjuangan pendahulu kita dalam menjalin hubungan yang harmonis diera Transmigrasi membuat kita sebagai generasi penerus seharusnya sadar diri akan susahnya menjaga keharmonisan ini dan sadar bahwa sesungguhnya kita semua bersaudara (vasu daiva kutum bhakam).